The Philosophy Of Fasting Caterpillar

Sepertinya sudah menjadi peraturan Allaah bahwa puasa merupakan tindakan yang harus dijalani bagi mahluknya yang ingin  meningkatkan kualitas diri atau mengubah diri menjadi lebih baik. Mungkin saja banyak hewan yang melakukan puasa dalam perjalanan hidupnya, hanya saja kita tidak / belum tahu .

Namun diantara mahluk yang saya tahu adalah puasanya ayam yang mengerami telurnya, dimana ketika telur-telur itu nanti menetas maka ia ( induk ayam )  akan menjadi ibu bagi anak ayam tersebut, hehe...

Kemudian puasanya ular , yang ingin berganti kulit. Ini menunjukan setelah bersusah payah menjalankan puasa maka ia mendapatkan kulit yang baru atau mengubah diri menjadi lebih baik ( kulitnya lebih mengkilat ).


Yang istimewa adalah puasanya ulat .
Hewan yang paling suka makan, karena hampir sepanjang waktunya dihabiskan untuk makan.

Namun ketika dia ingin mengubah diri atau meningkatkan kualitas dirinya menjadi untuk menjadi kupu-kupu maka ia pun menjalankan puasa.

Setelah berminggu-minggu ia menjauhkan diri di dalam kepompong dan menanggalkan nafsu makannya , maka setelah waktu yang ditentukan menjelmalah ia menjadi mahluk baru yang indah yaitu KUPU-KUPU.

Dan kehidupannya berubah total diantaranya :

a.   Wajah Ulat yang tadinya menakutkan menjadi indah mempesona.
b.   Panggilannya  berubah dari Ulat menjadi Kupu-kupu.
c.   Makanannya berubah dari pemakan daun menjadi pengisap  Madu.
d.   Cara bergerak berubah dari menjalar menjadi terbang.
e.   Tabiat juga berubah dari perusak tanaman menjadi hewan yang bermanfaat bagi mahluk lain yaitu membantu kelangsungan tumbuh-tumbuhan dengan membantu penyerbukan bunga.

Lantas bagaimana dengan puasa yang kita jalankan ?  apakah seperti puasanya Ular ? yang hasilnya  begitu-begitu saja ( tidak ada perubahan signifikan selain hanya untuk menjalankan hukum Allaah saja  atau mempertahankan kelangsungan hidupnya karena tidak merubah wujud , nama, cara  hidup ataupun tabiatnya , sekalipun berkali-kali menjalankan puasa namanya tetap Ular ) .

Mampukah kita berpuasa seperti puasanya Ulat ? dimana dampak dari puasa yang dijalankan dapat merubah secara signifikan dalam perjalanan hidupnya karena mampu merubah total dari mahluk yang menggangu , bertabiat buruk , menakutkan dll menjadi mahluk baru yang indah dan dikagumi .


.Semestinya  puasa bertujuan untuk meningkatkan kualitas diri kita atau merubah diri kita  menjadi orang yang taqwa  kepada Tuhan yang Maha Esa, yaitu orang yang senantiasa mematuhi segala perintah dan menjauhi semua laranganNya.  




Why The Qur'an Was Acceptable Only To Those Who Want To Use Reasonable Mind ?


Ada yang menarik ketika kita membaca dan mencermati isi dari kitab suci Al Qur’an. Allaah seringkali berfirman bahwa hanya orang-orang yang mau menggunakan akal pikirannya lah yang bisa meyakini keberadaan atau kebesaran Allaah SWT sebagai Tuhan pencipta seluruh alam semesta.
Melalui  Al Qur’an Allaah memberikan petunjuk kepada kita / manusia tentang banyak hal, diantaranya yaitu :

a.   Keesaan Allaah :

“ Katakanlah ( Muhammad ) “ Dialah Allaah , Yang Maha Esa “ ( QS. Al-Ikhlas : 1 ).
“ Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang “ ( QS. Al-baqarah : 163 ).

“ Seandainya pada keduanya ( di langit dan di bumi ) ada tuhan-tuhan selain Allaah , tentu keduanya telah binasa. Maha Suci Allaah yang memiliki Arsy  , dan apa yang mereka sifatkan “. ( QS. Al-Anbiya : 22 ).

Saya kira pengertian ayat tersebut dapat kita pahami. Saya gambarkan  bahwa jika dalam suatu organisasi atau kerajaan terdapat 2 orang pemimpin yang mempunyai kewenangan dan hak yang sama , maka sudah pasti organisasi atau kerajaan tersebut bakal hancur karena ada 2 perintah atau pengambil kebijakan dimana mungkin saja masing-masing dari ke dua pemimpin tersebut memiliki kebijakan / keinginan yang berbeda dalam mengelola organisasi / kerajaan tersebut.

Dan saya kira sangat masuk akal pernyataan tersebut, jika kita mau berpikir dengan jernih dan jujur dengan hati kita, terlebih jika ke dua pemimpin itu mempunyai keegoisan yang tinggi sudah pasti masing-masing tidak mau mengalah maka yang jadi korban adalah hancurnya organisasi / kerajaan tersebut.

b.    “ Dan pada pergantian  malam dan siang , dan juga (pada) hujan yang diturunkan oleh Allah dari langit, lalu Ia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya ( kering ), dan pada perkisaran  angin terdapat pula tanda-tanda ( kebesaran Allaah )   bagi kaum yang mau  menggunakan akal fikiran “ . ( QS. Al-Jatsiyah : 5 )

 “ Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi; dan                                           pergantian  malam dan siang; dan (pada) kapal-kapal yang belayar di laut dengan memuat benda-benda yang bermanfaat kepada manusia; apa yang Allaah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkanNya bumi setelah mati ( kering ) , dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan pada perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi , ( semua itu ),sungguh merupakan tanda-tanda kebesaran Allaah bagi orang-orang yang menggunakan akal pikirannya “ (QS. Al-Baqarah :164 ).

Dalam firman tersebut diatas, Allaah mengajak manusia untuk berpikir dan mencermati bagaimana  aturan alam semesta ini berjalan sesuai ketetapanNya. Untuk bisa memahami fenoma alam ini tentu tidak sekali langsung dipahami, tetapi harus berkali-kali mencermati dan meneliti ( menggunakan akal pikirannya ) bagaimana hujan bisa terbentuk, mengapa siang dan malam datang silih berganti , bagaimana binatang-binatang itu berkembang biak dan cara mempertahankan hidupnya dll. Dari memahami, mencermati , meneliti dll , maka akan bertemu pada satu titik bahwa segala yang  berjalan terkait fenomena alam ini ada yang mengendalikan atau mengaturnya . Apakah manusia dapat mengendalikannya ? menahan siang agar tetap siang misalnya ?

c.   Menginformasikan tentang kisah para Rasul atau nabi beserta umatnya,
“ Dan ( ingatlah ) ketika kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat kami selamatkan dan kami tenggelamkan ( Fir’aun dan ) pengikut-pengikut Fir’aun, sedang kamu menyaksikan “. ( QS. Al Baqarah : 50 ).

“ Dan kepada Lut , kami berikan hikmah dan ilmu, dan kami selamatkan dia dari  ( adzab yang telah menimpa penduduk ) kota yang melakukan perbuatan keji ( homo seksual dan menyamun ). Sungguh , mereka orang-orang yang jahat lagi fasik. “ ( QS. Al-Anbiya : 74 )

“ Dan ( ingatlah kisah ) Nuh, sebelum itu, ketika ia berdoa . kami perkenankan ( doa) nya, lalu Kami selamatkan dia bersama pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami menolongnya dari orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semua “ ( QS. Al-Anbiya : 76-77 ). Dan masih banyak kisah rasul / nabi lainnya.

Dalam firman tersebut diatas Allaah mengajak kita untuk berpikir atau mengambil pelajaran tentang  bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan atau mengingkari  kehadiran Allaah melalui ajaran yang disampaikan oleh  Rasul / Nabi yang diutusNya.

Bagi orang yang mau berpikir tentu dapat mengambil pelajaran dari sejarah atau kisah para rasul yang terdahulu dimana bagi kaum yang mendustakan keberadaan Allaah atau tidak mentaati ajaran rasulnya  mendapat adzab dari Allaah SWT. Saya banyak bukti bukti sejarah / benda benda peninggalan kaum terdahulu.

d.    Menyampaikan akan datangnya hari kiamat dan adanya kehidupan Akhirat .

“ Kemudian, kami membangkitkan kamu setelah mati, agar kamu bersyukur “ ( Qs. Al Baqarah : 56 ).

“Dan ( ingatlah ) ketika Ibrahim berkata “ ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allaah berfirman “ Belum percayakah engkau ?” ,. Dia ( Ibrahim ) menjawab “ Aku percaya , tetapi agar hatiku tenang ( mantap ). Dia ( Allaah ) berfirman “  Kalau begitu ambilah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu lalu letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggilah mereka, niscaya mereka datang kepadamu segera . Ketahuilah bahwa Allaah Maha perkasa , Maha Bijaksana .“ ( QS. Al Baqarah : 260 ).

“ Dan ingatlah, ketika Allaah berfirman “ Wahai Isa putera maryam! Ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu Rohul Kudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia diwaktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, juga hikmah Taurat dan Injil. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizinKu, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung ( yang sebenarnya ) dengan seizinKu. Dan ingatlah , ketika engkau menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta  dengan seizinKu. Dan ingatlah ketika engkau mengelurkan orang mati ( dari kubur menjadi hidup ) dengan seizinKu. Dan ingatlah ketika Aku menghalangi bani Israel ( dari keinginan mereka membunuhmu ) dikala engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata “ ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata “. ( QS. Al Maidah : 110 ).

Dari ayat –ayat diatas Allaah ingin menunjukkan bagaimana Allaah  membangkitkan atau menghidupkan mahluk yang telah mati . sebenarnya masih banyak ayat-ayat lain yang menggambarkan tentang bagaimana cara Allaah membuktikan orang yang sudah mati dapat hidup kembali.

Disini Allaah menegaskan atau mengajak manusia untuk berpikir bahwa perkara  ini  ( menghidupkan kembali orang yang sudah mati ) adalah hal yang mudah sekali bagi Allaah. Dan bagi kaum atau orang yang mau menggunakan akal pikirannya tentu dapat memahami karena kemampuan tersebut hanya dimiliki oleh Allaah SWT.

e.   Menyampaikan sifat-sifat Allaah SWT.

“  Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah , sesungguhnya Dia maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allaah yang menciptakan itu tidak mengetahui (  yang kamu rahasiakan dan lahirkan ), dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui “. ( QS. Al- Mulk : 13-14 ).

“ Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allaah Maha Mengetahui segala isi hati “. (QS. At-Taghaabun : 4).

“ Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allaah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allaah amat mengetahui segala yang ghaib “. ( QS. At-Taubah : 78 ).

Dari ayat-ayat diatas Allaah mengajak manusia untuk berpikir bahwa Allaah memiliki pengetahuan  yang luas bukan saja hal-hal yang tampak tetapi juga yang tidak tampak atau  yang dirahasiakan atau yang ghaib ( di langit, bumi, hati dan pikiran )  dimana pengetahuan itu tidak dimiliki atau tidak bisa dilakukan oleh manusia.

Bagi manusia yang mau berpikir , hal tersebut mudah dipahami sebab Allaah SWT sebagai Tuhan pencipta langit dan bumi beserta seluruh isinya sudah pasti memiliki ilmu dan pengetahuan yang luas dan tinggi yang tidak dikuasai oleh manusia.


ff.   Tidak adanya ayat yang bertentangan antara ayat yang satu dengan yang lainnya.

“ Maka tidakkah mereka menghayati ( merenungi ) Al qur’an ? Jika sekiranya Al Qur’an datangnya bukan dari sisi Allaah, niscaya mereka akan mendapat banyak pertentangan di dalamnya “ . ( QS. An-Nisa : 82 ).


Bagi orang-orang yang mau berpikir tentu dapat memahami bahwa Tuhan adalah Maha sempurna,  maka Al Qur’an sebagai firman Tuhan  isinya pun sempurna , diantara kesempurnaannya adalah tidak adanya pertentangan antara ayat yang satu dengan yang lainnya. Mengingat yang menurunkan adalah satu figur yaitu Allaah saja maka secara logika mustahil terjadi pertentangan di dalamnya. Dan ini ternyata bisa dibuktikan jika tidak ada satupun ayat yang saling bertentangan di dalamnya. 
Dengan kata lain Allaah ingin menegaskan bahwa sekiranya Al Qur'an datang dari pihak lain ( bukan dari Allaah ) pasti akan ditemukan banyak pertentangan didalamnya, atau antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. 

Demikan beberapa cara atau bukti bahwa Al Qur’an memang bisa dipahami dan diterima hanya bagi orang-orang yang mau menggunakan akal pikirannya sesuai firman Allaah SWT , yaitu orang-orang yang bisa mengambil pembelajaran dari isi kitab suci Al Qur'an .

Karena Al Qur’an memuat hal atau informasi yang memerlukan pemahaman , pemikiran yang mendalam , dan penelitian yang cermat dan teliti. yang mana Al Qur'an selain memuat ilmu tingkat tinggi tetapi juga berisi kisah para rasul / nabi sebelumnya beserta perilaku umatnya masing-masing. Jadi tidak sekedar untuk diimani saja tetapi juga didasarkan pada logika atau hal yang rasional sebagai petunjuk dan pembelajaran seluruh manusia serta bukti bukti sebagai data dukungnya.

Call With the Corect Name !!!

Dalam pergaulan sehari-hari seringkali seseorang memanggil temannya, 
atau orang lain dengan sebutan-sebutan yang buruk. Dia beralasan bahwa mereka sudah terbiasa dengan panggilan itu, terlepas dari karena kedekatan hubungan atau ketika mereka bercanda.

Allaah SWT berfirman “ Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, ( karena ) boleh jadi mereka ( yang diperolok-olok ) lebih baik dari mereka ( yang mengolok-olok ), dan jangan pula perempuan-perempuan ( mengolok-olok ) perempuan lain, ( karena ) boleh jadi perempuan ( yang diperolok-olok ) lebih baik dari perempuan ( yang mengolok-olok ). Janganlah saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah ( panggilan ) yang buruk ( fasik ) setelah beriman.Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang dholim " ( QS. Al-Hujurat : 11 ).

Dalam ayat tersebut diatas, disampaikan dengan jelas bahwasanya kita dilarang melakukan hal-hal sebagai berikut kepada mukmin yang lain :

1.   Mengolok-olok kaum yang lain atau kelompok / golongan yang tidak sepaham dengan kita . ( misalnya bendera hijau mengolok-olok bendera biru , putih atau sebaliknya ). Di masyarakat kita masih ada yang berperilaku demikian, mereka merasa atau mengira bahwa kelompok mereka lah yang paling hebat , paling benar, paling baik dsb. Padahal sesungguhnya hanya Allaah yang paling mengetahui siapa yang paling benar diantara mereka.

2.   Perempuan yang satu mengolok-olok perempuan lainnya. Mengapa perempuan ? mungkin karena memang perempuanlah  atau mayoritas perempuan, mahluk yang lebih suka membuat gosip mengenai  orang lain, tetangga bahkan saudaranya sendiri .

3.   Tidak boleh saling mencela antara yang satu dengan lainnya. Karena kadang kita tidak tahu persis permasalahan seseorang /  melihat hanya dari permukaannya saja ( berprasangka ), yang paling mengetahu sekali lagi hanya Allaah. sesama mukmin sesungguhnya saling bersaudara jadi  apabila seorang mukmin mencela mukmin yang lain maka ia bukanlah seorang mukmin dan itu berdosa.

4.   Tidak boleh memanggil dengan gelar atau sebutan yang jelek  ( botak, gendut, bagong, gareng, dower,  kampleng , cebol, bewok , gajah ( gemuk ),monyet , kucing atau nama binatang lainnya.  Panggilah dengan nama yang sesungguhnya. Misalnya nama sebenarnya " Udin ", panggilah dengan " Udin ", jangan karena dia berkepala botak dan gemuk / gendut maka dia dipanggil dengan sebutan “ hai botak , gendut “. Sesungguhnya nama memiliki arti atau makna. Orang tua memberi nama kepada anaknya , tentu ada maksud / harapan dari orang tua kepada anak tersebut.

Di samping itu nama juga memilki dampak secara psikologis bagi orang tersebut.  Maka panggilan / gelar  yang jelek tentu kadang membuat dia marah, merasa tidak nyaman, rendah diri , terhina, menyakitkan dll. Saya pernah membaca seseorang melakukan tindakan kekerasan karena dia marah terhadap korbannya karena dia  selalu diejek / merasa terhina dengan panggilan / julukan yang selalu dilontarkan korban  kepadanya.

Allaah SWT sangat memahami karakter hambaNya, karena itulah kita dilarang memanggil seseorang dengan seenak hati kita sendiri. memang kelihatan hal sepele tapi sebenarnya merupakan hal yang serius karena berdampak psikologis bagi yang mendapat gelar atau sebutan tersebut.

 Maka jika dia mempunyai nama yang baik , mengapa kita mesti memanggilnya  dengan sebutan yang jelek ?
Berhentilah memanggil nama teman, sahabat, saudara atau orang lain dengan sebutan-sebutan yang buruk, jika kita tidak ingin termasuk orang-orang yang Dholim !!!


Change Mind Set About Fasting !

Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat  bahwa dalam menjalankan ibadah puasa seringkali berlebihan dalam menyajikan hidangan untuk berbuka puasa ( menurut pengamatan penulis :D ). Kebanyakan orang  seringkali membeli ini dan itu untuk berbuka, sering mengada-adakan makanan baik itu memasak sendiri atau membeli di penjual-penjual dadakan yang tumbuh bagai jamur di musim penghujan. Tidak peduli apakah makanan itu akan habis disantap atau tidak tersentuh sama sekali yang penting menyiapkan makanan untuk berbuka ( ngumpulin makanan :D ).

Mereka  begitu sibuk menyusun  ataupun berburu menu baik hidangan utama ataupun takjil ( makanan pembuka ).  Dan ketika waktu berbuka tiba, seolah-olah melakukan balas dendam dengan menyajikan atau menyantap habis semua yang ada di  depannya. Seolah-olah melakukan balas dendam setelah selama kurang lebih 14 jam ususnya  diistirahatkan  dari makanan. Seolah-olah selama lebih kurang 14 jam mereka  telah menganiaya perutnya , sehingga begitu tiba waktu berbuka semua makanan  dihabiskan tanpa sisa meskipun secara bertahap.

Sehingga banyak diantara mereka, yang justru meningkat kolesterolnya, gula darahnya, dll pada saat menjalankan ibadah puasa, padahal puasa itu sendiri dimaksudkan agar tubuh kita  menjadi lebih sehat karena banyak racun dan toksin-toksin yang keluar dari tubuh kita manakala kita berpuasa.

Semua itu tentu terkait dengan pola makan selama kita menjalankan puasa . Ini bisa di mengerti karena hampir tiap hari mereka menyantap makanan / minuman yang manis-manis seperti sirup, kolak, dll dimana pada hari-hari biasa  mereka tidak melakukannya.maka tidak mengherankan jika di bulan puasa justru kadar gula darah atau kolesterolnya meningkat tajam ,tentu ini terkait dengan menu makanan yang mereka santap setiap harinya selama berpuasa.

Melihat fenomena ini , Apakah tidak sebaiknya kita ubah cara berpikir kita  dalam menyikapi datangnya bulan ramadhan ini. Kita jadikan bulan Ramadhan justru untuk hidup yang lebih sederhana daripada hari-hari biasa. Karena secara tidak langsung puasa mengajarkan kepada kita untuk berlatih mengekang hawa nafsu dalam hal apa saja. Untuk lebih peka  terhadap mereka yang sering kelaparan , karena kita sendiri dapat merasakan bagaimana rasanya orang menahan lapar. Bukankah kita berpuasa karena menuruti perintah Allaah   agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa .

Maka jika kita sudah niatkan diri untuk mematuhi perintah Allaah yaitu menjalankan puasa  tetapi mengapa kita seolah-olah mendiskripsikan bahwa puasa adalah penganiayaan bagi perut kita sendiri dengan melakukan balas dendam ketika tiba saat berbuka . Dengan menghidangkan makanan yang lebih lezat / enak dibandingkan hari-hari biasanya meskipun harus mengeluarkan uang lebih banyak atau bahkan sekalipun harus berhutang mungkin.

Seolah-olah puasa akan membuat sakit tubuh kita, padahal puasa justru sangat baik untuk kesehatan kita. Kita tidak perlu suplement ini dan itu karena saya yakin Allaah sudah merancang sedemikan rupa tubuh kita terkait dengan perintahNya untuk menjalankan puasa bagi  mahlukNya .

Inilah mengapa di bulan puasa justru banyak orang yang budgetnya membengkak dari bulan-bulan sebelumnya. Bulan yang seharusnya kita lalui dengan hidup yang lebih sederhana malah terbalik. Alangkah baiknya uang yang kita belanjakan untuk keperluan puasa kita kurangi / sisihkan untuk kita berikan / sedekahkan kepada mereka yang tergolong kurang mampu sehingga mereka bisa merayakan dan merasakan indahnya hari Raya Idul Fitri . 

Dulu ketika saya kecil memang sering mengumpulkan makanan untuk berbuka, semua di simpan dengan keyakinan setelah berbuka tentu akan disantap atau dihabiskan semua makanan itu meskipun pada kenyataanya kadang ketika waktu berbuka tiba , justru tidak tersentuh makanan yang telah dikumpulkan dari pagi hingga sore ,karena sudah kenyang dengan menu utama yaitu nasi beserta lauk pauknya.

Maka jadilah mereka penghuni lemari es, dan ini hampir setiap hari terjadi. tak kala lewat beberapa hari tentu bau, rasa dan warnanya pun berubah maka tempat sampahlah sebagai tempat terakhir makanan yang telah diperoleh dengan susah payah, entah itu harus mengantri atau menempuh jarak yang agak jauh untuk mendapatkannya.


Saya yakin anda pun mengalami hal tersebut ( menurut cerita teman-teman). Jadi apakah kita masih berkelakuan sama dengan pada saat kita masih kecil dulu ? Apakah bedanya cara berpikir pada  masa kanak-kanak dengan masa dewasa kita sekarang ini  jika perilaku kita  masih tetap sama ?

WHO YOU ARE ?

Sudahkah anda mengenali diri anda sendiri ? Mengenali diri sendiri saya kira itu penting agar dapat mencari kegiatan  atau pekerjaan yang sesuai dengan karakter dasar kita. Atau dalam dalam rangka menggali potensi atau untuk menyalurkan kelebihan yang kita miliki.

Setiap individu pada dasarnya memilki potensi untuk meningkatkan prestasi dibidangnya masing-masing. Hanya tergantung pada masing-masing individu apakah masing-masing individu tersebut mempunyai kemauan dan kebutuhan berprestasi di bidangnya. Apakah  potensi tersebut telah tergali  dengan maksimal atau masih tersimpan  pada dirinya
.
Untuk menggali potensi yang ada pada kita tentu kita harus mengenal diri kita sendiri terlebih dahulu. Dengan mengenal diri kita sendiri maka akan lebih memudahkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan kita dan meningkatkan kelebihan yang kita miliki.

Lantas bagaimana cara mengenal diri kita sendiri ?

1. Coba kita  memahami karakter yang ada di diri kita .  Ada 4 karakter dasar pada manusia menurut Hipocratees . Ia mengatakan bahwa ada 4 cairan tubuh yang mempengaruhi temperamen dasar manusia, jika cairan tubuh tersebut lebih  dominan dari cairan yang lain, maka cairan tersebut dapat membentuk karakter seseorang yaitu :

a.   Tipe Choleric  ( Empedu kuning ) sifatnya kering  : Keras , tegas, senang memimpin, membuat keputusan , dinamis dan aktif, bebas dan mandiri, berkemauan keras untuk mencapai target / sasaran, tidak begitu memerlukan teman, mau memimpin dan mengorganisasi , terdorong oleh tantangan, mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat, unggul dalam keadaan darurat.

Kelemahannya : tidak sabar dan cepat marah, senang memerintah, menyukai kontroversi / pertengkaran, terlalu kaku dan keras, cenderung memperalat orang lain, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, amat sulit mengaku /meminta maaf, susah untuk santai,  tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik, sering membuat keputusan tergesa-gesa, workaholics.

b.   Tipe Sanguin ( Darah ) sifatnya panas : Periang, hangat, suka bicara , antusias dan ekspresif, hidup di masa sekarang, mudah berubah ( kegiatan / keinginan ), berhati tulus dan kekanak-kanakan, menyenangkan dan dicemburui orang lain, mudah berteman dan menyukai orang lain, senang berkumpul / berorganisasi, mudah memaafkan, umumnya hebat di permukaan, menganmbil inisiatif dari hal-hal yang membosankan, menyukai hal-hal yang spontan.
.
Kelemahannya : Suara dan tertawa yang keras, membesar-besarkan masalah , mudah berubah, mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan / orang lain, prioritas kegiatan kacau, susah datang tepat waktu, rentang konsentrasi pendek.

c.   Tipe Phlegmatic ( Lendir ) sifatnya dingin  : Santai, tenang, mudah bergaul, tidak banyak bicara tapi cenderung bijaksana, simpatik dan baik hati ( suka menyimpan emosi ), cenderung berusaha menemukan cara  paling mudah, penengah masalah yang terbaik, menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan orang lain, berbelas kasihan dan peduli, mudah diajak rukun dan damai . ( cocok dengan penulis nih , haha..).

Kelemahannya : kurang antusias terhadap perubahan, menghindari konflik dan tanggung jawab, terlalu pemalu dan pendiam, kurang berorientasi pada tujuan ( biarkan hidup mengalir apa adanya hhehe,,), lebih suka sebagai penonton dari pada terlibat, sulit bergerak dan memotifasi diri ( pemalas :D ), tidak senang di desak-desak , bekerja sesuai mood :D ).

d.   Tipe Melancholy  ( Empedu hitam ) sifatnya basah : Pendiam, setia, serius, Analitis, mendalam dan penuh pikiran, artistik, musikal dan kraetif, bertujuan dan berorientasi pada jadwal, mengorbankan diri dan idealis , standar tinggi dan perfeksionis, senang perincian , tekun serta tertib dan teratur, berteman dengan hati-hati, mengabdi , puas di belakang layar dan  menghindari perhatian.

Kelemahannya : cenderung melihat dari sisi negatifnya, mengingat yang negatif dan pendendam, tertekan pada situasi yang tidak sempurna dan berubah-ubah, menghabiskan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan, sulit bersosialisasi , sulit mengungkapkan perasaan, rasa curiga yang besar, hidup berdasarkan definisi.

2. Tuliskan nama-nama tokoh yang anda kagumi beserta alasannya. Misalnya anda mengagumi tokoh tersubut karena kecerdasannya, kejujurannya, perilakunya yang sopan, ramah, penuh kasih sayang, tegas, pejuang yang keras, penolong, sabar, dll

 3. Setelah itu gabungkan sifat-sifat atau alasan anda mengagumi tokoh tersebut.

4. Nilai-nilai atau sifat-sifat yang anda tulis tadi adalah sifat anda yang hakiki. Atau menunjukkan siapa diri anda sesungguhnya. Dan jika melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sifat yang dimilikinya maka anda tidak nyaman.


Dari beberapa poin yang saya sampaikan sedikit banyak anda dapat mengenal diri anda sebenarnya. Meskipun pengelompokkan diatas tidak tepat sekali karena bisa jadi karakter anda merupakan gabungan beberapa tipe, misalnya tipe c dan d ( seperti saya  :D ), tetapi temperamen yang paling menonjol atau karakter dasar adalah seperti yang telah tersebut diatas. Paling tidak jika anda  tahu kelebihan dan kekurangan atau karakter dasar yang ada miliki,  mungkin anda dapat memilih pekerjaan atau menempatkan diri yang sesuai dengan karakter dasar anda.

Atau kita bisa berusaha untuk sedikit demi sedikit mengatasi kelemahan yang kita miliki dalam rangka meraih prestasi yang lebih baik dalam bidangnya masing-masing.

The secret behind the prayer sitting tahiyat beginning and end

Diriwayatkah didalam Assyifa oleh Hujjatul Islam Al Qadhi’iyad rah. Bahwa Rasulullah  shallallahu 'alaihi wasallam bercerita :

“Saat aku naik menuju Mi’raj aku melihat dilangit itu para malaikat gemuruh dengan dzikir dan tasbih dan warna dan bentuk yang belum pernah aku lihat di permukaan bumi ada warna seperti itu,  dan bentuk seperti itu dan kulihat hamparan surga itu bentangan tanahnya adalah Misk yang di keringkan.


Minyak wangi yang mengering dari indahnya di campur dengan berlian dan juga mutiara dan kemudian ketika aku sampai  menembus Muntahal khalai’iq (batas akhir seluruh Makhluk), tidak lagi kudengar satu suarapun, sepi dan senyap, tidak ada lagi bentuk dan warna warni dan saat itu akupun mendengar satu suara :

“Mendekat , mendekat wahai Muhammad, tenangkan dirimu dari ketakutanmu wahai Muhammad” 


maka beliau pun bersujud lalu berkata :  " Attahiyyatul Mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatu lillah“


(Rahasia keluhuran, kebahagiaan, kemuliaan, keberkahan, milik Allah dan untuk Allah subhanahu wata'ala)


Maka aku mendengar jawaban ucapan Rasul :  " Assalaamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh ”, (Salam sejahtera wahai Nabi dan Rahmatnya Allah, dan keberkahannya).


Maka aku menjawab : “Assalaamu alaina, wa alaa ibaadillahisshaalihiin” (Salam sejahtera bagi kami (yaitu aku dan ummatku), dan hamba hamba yg shalih (yaitu para nabi dan malaikat) ".


Beliau tidak mau mengambil rahasia salam sejahtera dari Allah sendiri, tapi ingin menyertakan ummat Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dengan ucapan :
“salam sejahtera untuk kami dan para hamba Allah yang shaleh yaitu para Malaikat dan para Rasul dan Nabi”


Dari cerita Rasulullah Saw diatas, ternyata doa  yang kita baca baik saat duduk tahiyat awal maupun akhir dalam sholat  adalah percakapan antara nabi Muhammad dengan Allaah SWT di Sidratul Muntaha. Dimana pada saat itu juga Rasulullah Saw menerima perintah untuk melaksanakan  sholat sebanyak 5 kali sehari dari sebelumnya sebanyak 50 kali, kemudian nabi Muhammad Saw meminta keringanan hingga menjadi 5 kali dalam sehari.

Why The Prophets Cry ?

Ketika nabi Muhammad Saw Miraj, di langit pertama ( ke satu )  beliau bertemu dengan nabi Adam dengan bentuk dan postur seperti pertama kali Allaah menciptakannya. Di kedua sisi nabi Adam ada 2 kelompok, beliau melihat nabi Adam tersenyum dan berseri-seri  ketika menengok ke kelompok sebelah kanan, tetapi ketika memandang ke kelompok sebelah kiri beliau menangis dan bersedih.

Maka nabi Muhammad menanyakan tentang hal tesebut kepada malaikat Jibril dan oleh malaikat Jibril dijelaskan bahwa kelompok sebelah kanan adalah anak cucunya yang akan menjadi penghuni syurga, sementara yang kiri adalah calon penghuni neraka. Dan ini  sesuai dengan firman Allaah dalam surat Al-Waqiah dimana disebutkan bahwa golongan kanan berada di surga sementara golongan kiri berada di neraka.

Saat nabi Muhammad memasuki langit ke enam, beliau bertemu nabi Musa.
Seorang yang berperawakan tinggi dan berkulit putih kemerah-merahan. Setelah saling menyapa nabi Muhammad segera berlalu, tetapi nabi Musa tampak menangis dan ketika ditanya mengapa beliau menangis. Nabi Musa menjawab “  Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus jauh setelah aku, tapi umatnya lebih dulu masuk surga daripada umatku ".


Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata “ Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata padaku “ Bacalah Al Qur’an untukku “.
Maka aku menjawab “ Wahai rasulullah, bagaimana aku membacakan Al Qur’an untukmu, bukankah Al Qur’an diturunkan kepadamu ?”.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “ Aku suka mendengarkannya dari selainku “. Lalu aku membacakan untuknya surat An-Nisa hingga sampai pada ayat ( yang artinya ) “ Maka bagaimanakah ( halnya orang kafir nanti ) apabila kami mendatangkan seorang saksi ( rasul ) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu ( Muhammad ) sebagai saksi atas mereka itu ( sebagai umatmu ). ( Qs. An-Nisa : 41 ). Beliau berkata “ Cukup “. Maka aku menoleh pada beliau , ternyata keadaan mata beliau dalam keadaan bercucuran air mata .

Dari keterangan diatas dapat kita pahami bahwa sesungguhnya para rasul atau nabi memiliki cinta yang dalam kepada umatnya. Nabi Adam ibarat orang tua yang mengetahui nasib anak-anaknya kelak dimana yang satu bahagia sementara yang lainnya menderita tentu sangat bersedih, terlebih lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Begitupun dengan nabi Musa dan nabi Muhammad, yang mereka pikirkan pun tak jauh beda yaitu umatnya ( manusia yang menjadi sasaran pengutusannya ). Mereka sama-sama bersedih karena diantara umatnya akan mengalami penderitaan, penyiksaan dan adzab dari Allaah. Mereka tahu persis bagaimana kelak nasib dari umatnya yang ingkar kepada Tuhannya dan banyak melakukan dosa .

Mereka sedih dan prihatin dengan nasib kita sementara kita yang dipikirkan dan disedihkan kadang justru tidak tahu diri. Masih bisa tertawa saat melakukan dosa.Ya Allaah, ya Rabbi... ampunilah kami, yang kadang masih suka menunda waktu sholat, meski kita tak perlu dan tak harus mengeluarkan apa-apa untuk melakukannya tapi kadang masih  terasa berat . Astaghfirullaahal adziim...! Astaghfirullaahal adziim..! Astaghfirullaahal adziim...!


Mother first then Father !

Dari Abu Hurairah ra , beliau berkata  “ Seseorang telah datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya ‘ Wahai rasulullah kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi shalallaahu alaihi wasallam menjawab “ Ibumu !“ kemudian orang tersebut kembali bertanya “ Kemudian kepada siapa lagi ?” Nabi shalallahu alaihi wasallam menjawab “ Ibumu ! “ Kemudian orang tersebut kembali bertanya “ Kemudian kepada siapa lagi ?” Beliau menjawab “ Ibumu ! “. Orang tersebut bertanya kembali “ kemudian kepada siapa lagi ?” Rasulullaah Saw menjawab “ kemudian ayahmu “. (HR.Bukhari dan HR. Muslim ).

Dari hadis tersebut dapat kita mengerti bahwa orang yang pertama kali yang harus kita hormati adalah ibu kita. Dan itu diulang sebanyak 3 kali oleh Nabi Muhammad Saw baru kemudian ayah kita. Maka jika dihadapkan pada suatu masalah yang mana kita harus memilih kepentingan antara ibu atau ayah yang kita utamakan adalah kepentingan ibu terlebih dahulu.
Mestinya dalam segala hal mengenai kebaikan yang kita utamakan adalah ibu terlebih dahulu baru kemudian ayah.
Coba cermati firman Allaah berikut ini :

“ Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah, dan mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah ( pula ). Mengandung dan menyapihnya adalah tigapuluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa “ Ya Tuhanku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan ( memberi kebaikan ) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri “. ( QS.Al-Ahqaaf : 15 ).

“ Dan kami perintahkan kepada manusia ( berbuat baik ) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang betambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahuan. Bersyukurlah kepadaku dan kedua orang ibu bapakmu,hanya kapadaKulah kembalimu “. ( QS. Luqman : 14 ).

Dari ke dua ayat tersebut diatas, Allaah selalu menempatkan atau menyebutkan  ibu terlebih dahulu baru bapak ( dua orang ibu bapaknya bukan dua orang bapak ibunya ).

Coba kita bandingkan keadaan yang real saat ini. Coba kita refresh ingatan kita, apakah kita sudah memperlakukan ibu seperti yang Allaah firmankan dan Rasulullah sabdakan ? Terkadang memang benar ungkapan “ seorang ibu dapat mengurusi 10 anak tetapi 10 anak belum tentu dapat mengurus 1 orang ibu “. Ataupun ungkapan kasih ibu sepanjang jalan sedangkan kasih anak hanya sejengkal ".

Maka bagi siapapun yang masih memiliki ibu , usahakan bahagiakanlah beliau semampu kita, meski sebanyak apapun yang kita lakukan tak akan bisa membalas jasanya. Jangan menyakiti perasaannya, jangan berkata dengan nada yang tinggi apalagi membentaknya. Bagi laki-laki yang telah beristri apabila dalam waktu yang sama terbentur antara kepentingan ibu dan istrinya maka dahulukan kepentingan ibunya. Ingat surga ada di telapak kaki ibu. Keridhaan Allaah tergantung kepada  keridhaan seorang ibu.



 To My Beloved Mother : like the air the love you give 


What we have done with our hands ?

Tanpa kita sadari sesungguhnya Allaah telah memberikan banyak tanda  di dalam diri setiap manusia. Bahkan tanda tersebut sangat jelas namun karena ketidaktahuan kita atau kurang mencermati tubuh kita sendiri maka tanda yang jelas itu tidak dimengerti atau dipahami.

Salah satu tanda tersebut adalah angka  ( dalam bahasa arab ) yang ada pada tangan kita. Jika kita perhatikan garis-garis  ditangan kita maka kita akan melihat angka 81 dan 18 jika dijumlah menjadi 99, sesuai dengan Asma Allaah  ( Asmaul Husna ). Ditangan kita terdapat Asma-asma Allaah yang indah.
Lantas,  apa yang sudah  kita lakukan  dengan tangan kita ?
Untuk melakukan hal-hal yang baikkah ?
Kebaikan apa yang telah kita lakukan untuk hidup kita ? Untuk orang-orang yang kita cintai, untuk sesama !

Kebaikan apa yang telah kita perbuat dengan tangan kita ? Atau keburukan apa yang telah kita lakukan dengan tangan kita ? manakah yang lebih banyak kebaikan atau keburukan ? Pada akhirnya tangan kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Dengan terdapatnya angka sejumlah 99  ( Asmaul Husna ) pada tangan kita, tentu dimaksudkan agar setiap saat kita ingat Allaah. Agar kita berdoa dengan menyebut AsmaNya bukan nama lain. Agar melakukan hal-hal yang baik saja  dengan tangan kita , karena didalamnya membawa Asma Allaah yang baik dan indah.

“ Dan Allaah memiliki Asmaul Husna ( nama-nama yang terbaik ), maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-namaNya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan “. ( QS. Al-A’raf : 180 ).

“ Dialah Allaah yang yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa. Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepadaNya. Dan Dialah Maha perkasa , Maha bijaksana “ ( QS. Al-hasyr : 24 ).



Berikut Asmaul husna :

        1 Ar Rahman :  Yang Maha Pengasih
        2 Ar Rahiim    : Yang Maha Penyayang
        3 Al Malik       : Yang Maha Merajai (bisa di artikan Raja dari                                                        semua Raja)
        4 Al Quddus   : Yang Maha Suci
        5 As Salaam  : Yang Maha Memberi Kesejahteraan
        6 Al Mu`min    :Yang Maha Memberi Keamanan
        7 Al Muhaimin : Yang Maha Mengatur
        8 Al `Aziiz        : Yang Maha Perkasa
        9 Al Jabbar      : Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
       10 Al Mutakabbir : Yang Maha Megah, Yang Memiliki         Kebesaran
       11 Al Khaliq     : Yang Maha Pencipta
       12 Al Baari`    : Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
      13 Al Mushawwir : Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
      14 Al Ghaffaar     : Yang Maha Pengampun
      15 Al Qahhaar     : Yang Maha Memaksa
      16 Al Wahhaab    : Yang Maha Pemberi Karunia
      17 Ar Razzaaq     : Yang Maha Pemberi Rezeki
      18 Al Fattaah       : Yang Maha Pembuka Rahmat
      19 Al `Aliim          : Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
      20 Al Qaabidh      : Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)
      21 Al Baasith        : Yang Maha Melapangkan (makhluknya)
      22 Al Khaafidh      : Yang Maha Merendahkan (makhluknya)
      23 Ar Raafi`          :  Yang Maha Meninggikan (makhluknya)
      24 Al Mu`izz          : Yang Maha Memuliakan (makhluknya)
      25 Al Mudzil          : Yang Maha Menghinakan (makhluknya)
      26 Al Samii`           : Yang Maha Mendengar
      27 Al Bashiir          : Yang Maha Melihat
      28 Al Hakam         :  Yang Maha Menetapkan
      29 Al `Adl              : Yang Maha Adil
      30 Al Lathiif           :  Yang Maha Lembut
      31 Al Khabiir          :  Yang Maha Mengenal
      32 Al Haliim           : Yang Maha Penyantun
      33 Al `Azhiim         :  Yang Maha Agung
      34 Al Ghafuur        : Yang Maha Memberi Pengampunan
      35 As Syakuur       : Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
      36 Al `Aliy              : Yang Maha Tinggi
      37 Al Kabiir           :Yang Maha Besar
      38 Al Hafizh          :  Yang Maha Memelihara
      39 Al Muqiit          : Yang Maha Pemberi Kecukupan
      40 Al Hasiib          : Yang Maha Membuat Perhitungan
      41 Al Jaliil             : Yang Maha Luhur
      42 Al Kariim          : Yang Maha Pemurah
      43 Ar Raqiib         : Yang Maha Mengawasi
      44 Al Mujiib          : Yang Maha Mengabulkan
      45 Al Waasi`        : Yang Maha Luas
      46 Al Hakiim        : Yang Maha Maka Bijaksana
      47 Al Waduud      : Yang Maha Mengasihi
      48 Al Majiid          : Yang Maha Mulia
      49 Al Baa`its        : Yang Maha Membangkitkan
      50 As Syahiid       : Yang Maha Menyaksikan
      51 Al Haqq           : Yang Maha Benar
      52 Al Wakiil          :  Yang Maha Memelihara
      53 Al Qawiyyu      : Yang Maha Kuat
      54 Al Matiin          : Yang Maha Kukuh
      55 Al Waliyy         : Yang Maha Melindungi
      56 Al Hamiid          : Yang Maha Terpuji
      57 Al Muhshii :  Yang Maha Mengalkulasi (Menghitung Segala Sesuatu)
      58 Al Mubdi`   : Yang Maha Memulai
      59 Al Mu`iid    : Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
      60 Al Muhyii    : Yang Maha Menghidupkan
      61 Al Mumiitu  : Yang Maha Mematikan
      62 Al Hayyu    : Yang Maha Hidup
      63 Al Qayyuum : Yang Maha Mandiri
      64 Al Waajid : Yang Maha Penemu
      65 Al Maajid : Yang Maha Mulia
     66 Al Wahid  : yang Maha Tunggal
     67 Al Ahad  : Yang Maha Esa
     68 As Shamad : Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
     69 Al Qaadir : Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
     70 Al Muqtadir : Yang Maha Berkuasa
     71 Al Muqaddim : Yang Maha Mendahulukan
     72 Al Mu`akkhir : Yang Maha Mengakhirkan
     73 Al Awwal : Yang Maha Awal
     74 Al Aakhir : Yang Maha Akhir
     75 Az Zhaahir : Yang Maha Nyata
     76 Al Baathin : Yang Maha Ghaib
     77 Al Waali : Yang Maha Memerintah
     78 Al Muta`aalii  : Yang Maha Tinggi
     79 Al Barru : Yang Maha Penderma (Maha Pemberi Kebajikan)
     80 At Tawwaab : Yang Maha Penerima Tobat
     81 Al Muntaqim : Yang Maha Pemberi Balasan
     82 Al Afuww : Yang Maha Pemaaf
     83 Ar Ra`uuf :  Yang Maha Pengasuh
     84 Malikul Mulk : Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
     85 Dzul Jalaali Wal Ikraam : Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
     86 Al Muqsith :  Yang Maha Pemberi Keadilan
     87 Al Jamii` : Yang Maha Mengumpulkan
     88 Al Ghaniyy : Yang Maha Kaya
     89 Al Mughnii : Yang Maha Pemberi Kekayaan
     90 Al Maani : Yang Maha Mencegah
     91 Ad Dhaar : Yang Maha Penimpa Kemudharatan
     92 An Nafii : Yang Maha Memberi Manfaat
     93 An Nuur : Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
     94 Al Haadii : Yang Maha Pemberi Petunjuk
     95 Al Badii' : Yang Maha Pencipta Yang Tiada Bandingannya
     96 Al Baaqii : Yang Maha Kekal
     97 Al Waarits : Yang Maha Pewaris
     98 Ar Rasyiid   : Yang Maha Pandai
     99 As Shabuur : Yang Maha Sabar

What was The sainted Servants ?

Allaah Swt berfirman “ Dan ( ini ) sesungguhnya Al Qur’an yang sangat mulia, dalam kitab yang terpelihara ( lauh Mahfuz ), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seluruh alam. Apakah kamu menganggap remeh berita ini ( Al qur’an ) ? “ ( QS. Al-Waqiah : 77 - 81 ).

Berdasarkan ayat diatas, banyak diantara kaum muslimin yang menterjemahkan bahwa orang-orang yang tidak bersuci atau dalam keadaan berhadas baik kecil maupun besar tidak boleh memegang kitab suci Al Qur’an. Dengan kata lain untuk dapat memegang atau menyentuh Al Qur’an haruslah berwudlu terlebih dahulu.
Benarkah demikian ?

Sesungguhnya tidak ada yang lebih mengetahui maksud dari firman tersebut selain Allaah dan rasulullah Saw. Seandainya nabi Muhammad masih berada ditengah-tengah kita mungkin kita bisa langsung menanyakan hal tersebut sehingga mungkin tidak akan ada perbedaan pendapat tentang ayat tersebut dalam menafsirkannya.

Karena dari yang saya tahu ada 2 pendapat yang berbeda, dimana segolongan ulama melarang kita menyentuh Al Qur’an dalam keadaan berhadas tetapi ada segolongan ulama lain yang memperbolehkan menyentuh Al Qur’an meski tanpa berwudlu lebih dulu.

Namun dari 2 pendapat tadi saya cenderung lebih setuju dengan pendapat yang kedua . Bahwa Untuk memegang atau menyentuh Al Qur’an tidak harus berwudlu terlebih dahulu . Mengapa ?

1.   Pada saat ayat Al Qur’an diturunkan ( secara berangsur-angsur ), bukankah belum dibukukan ? berarti masih berupa kalimat / kata-kata. Lantas bagaimana mungkin kalimat dapat kita sentuh , jika menyentuh hati / pikiran , mungkin bisa. Maka Al Qur'an yang dimaksud bukan Al Qur'an yang dapat kita pegang atau kita sentuh seperti sekarang ini.

2.   Ayat yang berbunyi “ Tidak ada yang menyentuhnya ( Al Qur'an )  selain hamba-hamba yang disucikan “ Bukankah ini kalimat pemberitahuan, bukan kalimat perintah berbeda misalnya “ Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang telah bersuci  atau mensucikan diri ( bebas dari  hadas ). 

3.   Kalimat tersebut  berbunyi “ Hamba-hamba yang disucikan “ . Siapa yang dapat mensucikan seorang hamba ? tentu Allaah !, bukan  “ hamba-hamba yang mensucikan / membersihkan diri ( dari hadas ) “. Kalau menurut saya suci disini bukan sesederhana mensucikan diri dari hadas besar ataupun kecil , tetapi lebih dari itu yaitu hamba yang memiliki keimanan dan ketaqwaan yang sangat tinggi .

4.   “ kami tidak menurunkan Al Qur’an ini agar kamu menjadi susah tetapi  sebagai peringatan bagi orang yang takut ( kepada Allaah )”. ( QS.Taha : 2-3 ).
“ Al Qur’an ini adalah sebagai pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi yang meyakini. “ ( QS. Al-Jasiyah : 20 ).

Jelas disini Allaah menurunkan kitabNya sebagai peringatan, pedoman dan rahmat  kepada hambaNya bukan untuk menjadikan susah. Dalam kaitan pembahasan ini makna agar kamu tidak menjadi susah,  tentu menjadi fleksibel jika kita dimanapun berada ( di dalam bus, kereta atau di supermarket / pasar , kantor , sekolah, taman, dll )  jika  ingin membaca Al Qur’an tidak harus repot mencari air untuk berwudlu. ( In Sha Allaah ).

Maka siapa yang dimaksud dengan Hamba-hamba yang disucikan dalam firman diatas ? Jika kita melihat ayat sebelumnya Al Qur’an yang dimaksud adalah Al Qur’an yang sangat mulia, Al Qur’an yang terpelihara ( dari Lauh Mahfuz ), dimana tidak ada hamba yang dapat menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan , siapa lagi hamba yang suci jika bukan malaikat yang tidak memiliki dosa sama sekali. Maka yang dimaksud Al Qur'an disini bukan Al Qur' an yang dapat kita sentuh / pegang seperti sekarang ini tetapi Al Qur'an yang terpelihara di Lauh Mahfuz.

Menurut saya disini Allaah ingin menegaskan bahwa Al Qur’an ini adalah Firman Allaah yang terjaga keasliaannya  atau kemurniannya  ( tanpa ada campur tangan dari siapapun ) diturunkan  oleh Allaah dari Lauh Mahfuz bukan seperti kitab-kitab lain yang keadaannya sudah tidak asli lagi ( karena campur tangan manusia / hamba  yang lain ).

Sementara banyak kaum muslimin yang berpendapat atau memaknai bahwa untuk memegang / membaca Al Qur’an harus bersuci / berwudlu terlebih dahulu karena ada ayat “ Tidak ada yang menyentuhnya ( Al Qur’an ) kecuali hamba-hamba yang disucikan “.

Kalau saya pribadi makna “ Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan “ bukan berati bahwa kita harus berwudlu dulu untuk memegang / membaca Al Qur’an tetapi lebih memaknai bahwa  “ Al Qur’an tersebut  terbebas dari campur tangan hamba-hambaNya seperti manusia atau setan “, kecuali hambaNya yang suci yaitu malaikat ( pada saat diturunkan melalui malaikat ). Karena ada kaum lain yang menganggap bahwa Al Qur’an adalah ayat-ayat buatan setan .

Atau dapat juga berarti bahwa Al Qur’an hanya akan disentuh oleh hamba-hamba yang disucikan yaitu kaum muslimin.
” Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musrik itu najis “ ( QS. At-taubah : 28 ).
“ Orang mukmin itu tidaklah najis “ ( HR.Mutaffaq alaih ).

Jadi point yang ingin saya sampaikan :

1.   Untuk memegang atau membaca Al Qur’an tidak harus berwudlu terlebih dahulu, tetapi jika ingin berwudlu saya kira itu lebih baik.
2.   Arti dari hamba-hamba yang disucikan mungkin bisa malaikat atau orang mukmin. Tetapi dalam pengertian disini ,saya lebih condong ke malaikat. 
3.   Bahwa Al Qur’an itu murni / asli dari Allaah terbebas dari campur tangan hambaNya ( untuk menjawab tuduhan bahwa Al Qur’an itu adalah buatan  nabi Muhammad  atau ayat-ayat setan ).

4. Jika orang-orang yang memegang atau membaca Al Qur'an harus orang yang telah bersuci / berwudlu berarti Allaah membatasi hambaNya yang ingin membacanya, bagaimana dengan non muslim ( yang belum tahu arti suci dari hadas mungkin ) yang ingin belajar atau membacanya apakah dilarang ?  padahal Al Qur'an adalah peringatan, petunjuk dan rahmat bagi hambaNya. Maka menurutku jelas disini bahwa yang dimaksud dengan  suci dalam konteks ini bukan orang-orang yang telah berwudlu melainkan hamba yang memilki kesucian yang hakiki yaitu malaikat.

Demikian pendapat saya , apabila ada yang kurang sepaham tentu saya tetap menghormatinya dan berharap untuk tidak menjadikan polemik.













Entri yang Diunggulkan

My writing Is My expression ...

Menulis adalah salah satu kegiatan yang aku  sukai sejak dulu bahkan sejak aku  masih duduk di bangku SMP .  Pada waktu itu menulis puisi a...